
BONDING sudah KUAT, tapi UJIAN lebih DAHSYAT
Sudah dengar berita dua mahasiswa PNJ beradegan tidak senonoh di tempat umum, dan akhirnya disidang terbuka. Ayahnya datang, menangis, dan meminta maaf. Huft, hati ayah mana yang tidak hancur.
Padahal menurut pengakuan sang ayah, mereka sering ke masjid bareng. Kalau ke masjid aja bareng, bagaimana Ketika di rumah? Bukankah sudah sangat dekat? Bukankah banyak cerita mengalir diantara mereka?
Jujur. Saya juga dekat dengan anak. Saya juga ke masjid bareng. Ngopi bareng. Kadang segelas berempat. Anak saya cowok kelas X, cowok kelas VII, dan cewek kelas TK. NGOBROL? Bisa dari bangun tidur sampai mau tidur lagi.
Kemarin pas liburan sekolah, kami bertiga (men’s time), SHOLAT MUQONTORIN (sholat Tahajud 1.000 ayat) beberapa kali. Kami dekat banget. Obrolan biasa sampai dewasa. Mimpi basah sampai cari nafkah. Apa pun kami diskusikan.
Saya sering bertanya:
- Kalian bahagia g punya bapak kayak gini?
- Kalian mau g hidup bersama sampai di syurga?
- Kalau kalian baca qur’an, tolong pahalanya juga dikirim ke bapak dan kakek ya.
- Bapak kurangnya apa sih?
- Dll.
Saya merasa, saya sudah berada di jalur yang benar dalam mendidik anak.
Tapi berita kemarin itu sungguh meresahkan. Saya jadi takut. Tapi saya juga sudah sering berpesan. Aurat laki-laki dari pusar sampai lutut. Tidak boleh ada yang melihat, apalagi menyentuh area itu.
Kalau ada yang menyentuh bagaimana? Langsung hajar di tempat nak. Tendang selangkangannya, tonjok mukanya sambil bilang, “maaf reflek!”
Kalau melihat teman yang melambai bagaimana? Tampar! Sadarkan dia. Kalau bukan kamu yang menyadarkan siapa lagi? Bukan jahat, tapi kamu mengeluarkan dia dari neraka.
Tapi selain itu semua, kita harus lebih kuat lagi doanya. Tirakatnya. Amalnya.
Teringat ceramah Ustadz Salim A Fillah dalam pengajian Trah Raja Jawa:
Bapak Topo, Anak Nompo, Putu Melu, Buyut Katut, Canggah Kesrambah.
Maksudnya, kesholehan kita sebagai orang tua itu akan mengalir sampai 7 turunan lebih.
Ingat, kesuksesan anak, tergantung doa orang tua.

Tinggalkan komentar