A NEW HOUSE

Orang tuaku baru saja pergi pagi ini karena urusan pekerjaan. Mereka meninggalkanku di rumah baru ini bersama 3 temanku selama beberapa hari.

Malam pertama, kami bertiga nonton TV di ruang tamu. Suasana tenang… sampai tiba-tiba
Brak!
Ada suara benda jatuh dari arah dapur.
Aku dan Ridho saling pandang. “Cek yuk.”
Kami jalan ke dapur. Lampu menyala. Kosong. Tidak ada apa-apa. Piring semua rapi.

Besoknya kami bangun karena adzan subuh. Kami siap-siap ke masjid. Tapi Rama bilang perutnya sakit dan mau ke kamar mandi dulu. “Kalian duluan aja.”
Kami berangkat bertiga.

Sepulang dari masjid, aneh.
Rama malah duduk di depan TV. Wajahnya datar.
“Rame amat sih kalian,” kataku sambil mau memarahinya.
Tapi sebelum mulutku kebuka, suara lain muncul dari belakang kami.
“Hei, kalian udah pulang? Maaf ya, tadi perutku sakit jadi gak ke masjid.”
Kami bertiga langsung membeku.
Aku menoleh ke TV. Tidak ada siapa-siapa.
Kursi di depan TV kosong.
Kami bertiga saling tatap. Tidak ada yang berani bahas itu lagi.

Malamnya, aku dan Ridho keluar beli makan. Rizqi dan Rama ada di rumah.
Pas pulang kami ketuk pintu. Tidak ada jawaban.
“Rizqi! Ra, bukain dong!”
Sunyi.
Akhirnya aku ambil kunci cadangan di bawah keset.

Pintu terbuka.
Dan di sana… Rizqi tergeletak di depan pintu. Matanya membelalak.
“Rizqi!” Aku langsung gendong dia ke sofa.
Ridho panik mau telpon ambulans, tapi sinyal hilang. Tidak ada satupun nomor yang nyambung.
Tiba-tiba…
KLIK
Listrik mati. Gelap total. Gelap yang tidak wajar. Aku bahkan tidak bisa melihat tanganku sendiri.

“Ridho?”
Tidak ada jawaban.
Aku meraba ke arah sofa tempat Rizqi tadi. Kosong.
Hilang.

Dari dapur terdengar suara lagi.
Brak. Brak. Brak.
Sesuatu mendekat. Napasku tercekat.

Lalu aku tidak ingat apa-apa.
Aku terbangun. Kepala pusing.
Aku di lantai. Teman-temanku juga tergeletak di sekitarku.
“Ini dimana?”
Langit-langitnya beda. Jendelanya kecil.
“Ini lantai dua,” gumamku. Sejak pindah, kami belum pernah naik ke atas.

Mereka satu-satu sadar.
“Kok kita bisa di sini?”
Rama yang terakhir bangun. Dia cerita dengan suara gemetar.
“Tadi subuh pas kalian ke masjid, aku keluar kamar mandi. Terus ada suara dari dapur. Lampunya mati. Terus… aku ngerasain hal yang sama kayak kamu barusan.”

Kami memutuskan turun. Harus keluar dari rumah ini.
Baru 3 anak tangga, suara itu datang lagi.
Brak.
Brak. Brak. Brak.
Sekarang bukan suara biasa. Itu peringatan.

Lampu mati lagi.
Kami berempat merapat. Jantung rasanya mau copot.
Lalu lampu dapur menyala sendiri. Jam di HP menunjukkan pukul 04.00. Hampir subuh.

Kami lari ke pintu. Terkunci.
Dan di belakang kami… ada yang turun dari tangga.
Hitam. Tinggi. Kepalanya hampir menyentuh plafon. Ia jalan pelan. Sangat pelan. Seolah memberi kami waktu untuk lari.

“Brak! Brak! Brak!”
Kami hantam pintunya bersama-sama.
Pintu terbuka.
Kami lari sekencang-kencangnya ke luar.

Di teras kami berhenti dan menoleh.
Makhluk itu berdiri di balik pintu kaca. Menatap kami.
Lalu… DUAR!
Pintu tertutup sendiri. Dan semua lampu di dalam rumah menyala terang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Adzan subuh berkumandang.
Tanganku gemetar saat aku chat orang tuaku. “Bu, Pa, pulang sekarang.”
Aku menatap teman-temanku. Mata mereka sama. Penuh takut.
“Ayo… ke masjid.”

Related Post

No comments

Tinggalkan komentar